Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Menurutnya, perdamaian hanya dapat diwujudkan melalui persahabatan, dialog, dan saling menghormati antarsesama.
“Jika kita bersahabat, kita akan hidup berdampingan dengan damai, tenteram, dan sejahtera. Sebaliknya, konflik hanya akan menghambat kehidupan dan pembangunan,” ujarnya.
Ia berharap semangat yang lahir dari Belu dapat menginspirasi masyarakat dunia.
“Mari kita pancarkan cahaya persahabatan dan perdamaian dari Atambua, Belu, dan Nusa Tenggara Timur untuk dunia,” ajaknya.
Bupati Belu: Filosofi “Belu adalah Sahabat” Menjadi Jiwa Festival
Sementara itu, Bupati Belu Willybrodus Lay menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Belu sebagai tuan rumah Festival Persahabatan Internasional 2026.
Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa nama Belu memiliki makna filosofis sebagai “Sahabat”, sehingga sangat selaras dengan semangat festival yang mengusung nilai persaudaraan dan perdamaian.
“Terima kasih telah memilih Kabupaten Belu dan Kota Atambua sebagai lokasi festival internasional ini. Kami percaya pilihan ini bukan sebuah kebetulan, tetapi bagian dari penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujar Willy.
Menurutnya, penyelenggaraan festival tersebut semakin memperkuat komitmen Belu sebagai daerah perbatasan yang menjunjung tinggi persahabatan melalui pendekatan budaya.
Belu Perkuat Posisi sebagai Pusat Diplomasi Budaya
Bupati Willy mengungkapkan bahwa hanya beberapa hari sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Belu sukses menggelar Festival Fulan Fehan yang juga mengangkat tema persahabatan dan perdamaian.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan