Bandung, RakyatNTT.ID – Kota Bandung menjadi tuan rumah babak final sekaligus penutup turnamen sepak bola inklusif tingkat nasional Soccer for Equality 2026 yang berlangsung di Stadion Siliwangi pada 18–19 Juli 2026.

Lebih dari sekadar kompetisi olahraga, turnamen ini mengusung misi sosial untuk memperjuangkan kesetaraan gender serta mendukung akses pendidikan bagi anak-anak, khususnya anak perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ajang yang diinisiasi Plan Indonesia bersama SalingJaga by Kitabisa tersebut telah digelar secara bertahap di lima kota, yakni Jabodetabek, Malang, Balikpapan, Makassar, dan ditutup di Bandung.

Libatkan 173 Tim dari Berbagai Daerah

Soccer for Equality 2026 diikuti 173 tim dari berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah keikutsertaan 32 tim sepak bola putri kategori usia 10–12 tahun, sebagai bentuk dukungan terhadap meningkatnya partisipasi anak perempuan dalam dunia olahraga.

Bandung dipilih sebagai lokasi penutupan karena dinilai merepresentasikan semangat perjuangan kesetaraan melalui sepak bola yang inklusif dan terbuka bagi semua anak tanpa memandang jenis kelamin.

Sepak Bola jadi Ruang yang Setara

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, mengatakan sepak bola tidak hanya menjadi sarana olahraga, tetapi juga media untuk membangun rasa percaya diri, kepemimpinan, serta keberanian anak perempuan dalam meraih cita-cita.

“Sepak bola adalah ruang yang setara. Di lapangan, tidak ada batasan siapa yang boleh bermimpi atau menunjukkan kemampuan. Melalui Soccer for Equality, kami ingin memastikan lebih banyak anak perempuan memiliki kesempatan berpartisipasi dalam olahraga, termasuk sepak bola yang selama ini identik dengan laki-laki,” ujarnya.

Menurut Dini, kesempatan yang sama dalam olahraga akan membantu anak perempuan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mampu memimpin, dan memiliki keyakinan untuk menggapai masa depan yang lebih baik.

“Kami ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berani memimpin, dan yakin bahwa mereka mampu meraih cita-citanya,” tambahnya.

Galang Dana untuk Pendidikan Anak Perempuan di NTT

Selain menggelar kompetisi, Soccer for Equality 2026 juga menjadi wadah sport charity atau olahraga untuk kegiatan sosial melalui penggalangan dana bagi pemenuhan hak pendidikan anak-anak di NTT.

Inisiatif tersebut lahir dari keprihatinan terhadap masih rendahnya akses pendidikan di provinsi tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata lama sekolah di NTT pada 2024 baru mencapai 8,38 tahun, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 9,22 tahun.

Di sisi lain, tingginya angka perkawinan anak dan diskriminasi berbasis gender masih menjadi tantangan besar yang menghambat anak perempuan memperoleh pendidikan yang layak.

Ajak Masyarakat Bergotong Royong

VP Crowdfunding Kitabisa sekaligus perwakilan SalingJaga/Beyond The Game, Marsudi Wijaya, mengatakan perubahan sosial membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Melalui semangat gotong royong yang dibangun lewat olahraga, masyarakat diajak ikut berkontribusi menciptakan kesempatan yang lebih adil bagi anak-anak perempuan di Indonesia.

“Melalui semangat gotong royong lewat sepak bola, kami ingin mengajak masyarakat untuk ikut terlibat dalam perjuangan mewujudkan kesetaraan,” kata Marsudi.

Menurutnya, kolaborasi antara Plan Indonesia dan SalingJaga menjadi contoh bagaimana olahraga dapat dipadukan dengan gerakan perlindungan anak, kesehatan, serta solidaritas sosial.

Ia berharap inisiatif tersebut mampu membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi anak perempuan di NTT sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berprestasi, dan mewujudkan cita-cita di masa depan. (*/rnc)