Kalabahi, RakyatNTT.ID – Wahana Visi Indonesia (WVI) terus memperkuat pendampingan bagi petani kenari di Kabupaten Alor melalui peningkatan kualitas produk dan pengembangan akses pasar.

Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing kenari Alor sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Pendampingan dilakukan melalui edukasi kepada petani mengenai standar mutu produk, teknik penyortiran hasil panen, hingga penguatan sistem pemasaran yang lebih efisien agar komoditas kenari mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Manager National Inclusion Project Wahana Visi Indonesia, Vinsensius Suwandi, menjelaskan bahwa perluasan pasar harus diimbangi dengan peningkatan kualitas produk sesuai kebutuhan pembeli.

“Ketika kita ingin memperluas pasar, tentu ada konsekuensinya. Petani juga harus memenuhi standar yang dibutuhkan pasar. Karena itu kami mendampingi petani agar memahami seperti apa produk yang diinginkan pembeli dan bagaimana melakukan proses sortir yang baik,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (23/6/2026).

Tingkatkan Mutu agar Mampu Bersaing

Menurut Vinsensius, setiap pembeli memiliki standar dan karakteristik yang berbeda terhadap produk kenari. Karena itu, petani perlu dibekali kemampuan untuk memilih, menyortir, dan menghasilkan produk sesuai permintaan pasar.

Melalui pendampingan tersebut, WVI ingin memastikan petani tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga memahami pentingnya kualitas sebagai faktor utama dalam memperluas jaringan pemasaran.

Ia menjelaskan, WVI pernah menjalankan program pendampingan di Alor sejak 1999 hingga 2015–2016. Kini, lembaga tersebut kembali hadir melalui Program Inclusion yang menjangkau seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Khusus di Kabupaten Alor, fokus program diarahkan pada pengembangan komoditas kenari, sementara di daerah lain lebih banyak mendampingi sektor pertanian padi.

Bangun Sistem Pemasaran yang Menguntungkan Petani

Selain meningkatkan kualitas produk, WVI juga membantu membangun sistem pemasaran yang lebih efektif agar petani memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Di wilayah Pantar, misalnya, WVI memfasilitasi pembentukan kelompok perempuan yang bergerak dalam pengolahan kenari sekaligus membangun jaringan pengumpul lokal.

Melalui sistem tersebut, petani tidak lagi harus mengeluarkan biaya transportasi yang tinggi untuk membawa hasil panen ke Kalabahi.

“Biaya membawa kenari dari Pantar ke Kalabahi cukup mahal. Karena itu kami membentuk sistem pengumpul di wilayah tersebut sehingga petani bisa menjual hasilnya lebih dekat dengan harga yang telah dihitung secara adil dan menguntungkan petani,” jelas Vinsensius.

Langkah tersebut dinilai mampu memperpendek rantai distribusi sekaligus meningkatkan efisiensi pemasaran komoditas kenari.

Kolaborasi dengan BRIN Perkuat Identitas Kenari Alor

Pengembangan komoditas kenari Alor juga diperkuat melalui kolaborasi antara WVI, Pemerintah Kabupaten Alor, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Menurut Vinsensius, kerja sama tersebut dimulai sejak tahun 2023 karena sebelumnya belum tersedia data penelitian yang memadai mengenai potensi kenari Alor.

Proses riset melibatkan berbagai pihak, mulai dari BRIN, Bappeda, pemerintah daerah, hingga pemerintah desa untuk mengumpulkan data sebagai dasar pengembangan produk.

“Kami memulai dari nol karena belum ada data penelitian terkait kenari Alor. Proses ini dilakukan bersama BRIN dan pemerintah daerah. Banyak pihak terlibat, mulai dari Bappeda hingga pemerintah desa untuk membantu penyediaan data yang dibutuhkan,” katanya.

Hasil penelitian tersebut kini mulai memberikan manfaat dalam memperkuat identitas, kualitas, dan daya saing kenari Alor di pasar yang lebih luas.

Harapan Besar bagi Kesejahteraan Petani

Selain mendampingi proses produksi, WVI juga berperan sebagai penghubung antara petani dan pasar. Ketika terdapat masukan dari pembeli mengenai kualitas produk, WVI membantu menjembatani komunikasi agar petani dapat terus melakukan perbaikan.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan rantai pemasaran yang sehat sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar terhadap produk kenari asal Alor.

“Harapan kami, ke depan petani kenari di Alor dapat benar-benar mandiri, mampu memenuhi standar pasar, dan memiliki akses pemasaran yang lebih luas sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” pungkas Vinsensius.

Melalui pendampingan berkelanjutan, WVI berharap komoditas kenari tidak hanya menjadi produk unggulan Kabupaten Alor, tetapi juga mampu menjadi sumber peningkatan pendapatan masyarakat serta memperkuat perekonomian daerah. (rnc)