Ia menceritakan, KSP Kopdit Pintu Air lahir dari Kampung Rotat, sekitar 15 kilometer dari Kota Maumere, sebuah wilayah yang kala itu masih memiliki banyak keterbatasan, termasuk akses terhadap air bersih.

Koperasi ini lahir dari kampung kecil. Kami memulai dari kelompok kecil, dari 50 orang arisan keluarga, kemudian berkembang menjadi usaha bersama simpan pinjam hingga akhirnya menjadi Credit Union,” kata Yakobus.

Menurut dia, sejak awal filosofi yang dibangun bukan mengumpulkan uang, melainkan mengumpulkan manusia yang memiliki semangat saling membantu.

“Credit Union itu kumpulan manusia, bukan kumpulan uang. Kita datang ke mana-mana mencari manusia, bukan mencari uang,” ujarnya.

Yakobus juga membagikan perjalanan hidupnya sebelum memimpin koperasi.

Ia mengaku pernah bekerja sebagai penjaga toko, kemudian berkarier di dunia perbankan, hingga akhirnya mengabdikan diri dalam gerakan koperasi.

Saat ini, kata dia, KSP Kopdit Pintu Air telah memiliki sekitar 507.000 anggota dengan total aset mencapai Rp 2,7 triliun.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa besarnya aset bukanlah tujuan utama, melainkan cerminan kepercayaan dan kebersamaan para anggota.

“Ini gerakan dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota. Kuncinya tetap menabung karena dari tabungan itulah anggota bisa membangun usaha dan meningkatkan kesejahteraan,” katanya.