Kupang, RakyatNTT.ID – Hari kedua Simposium Internasional Association of Japan-Indonesia Veterinary Education (AJIVE) ke-10 di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang diwarnai dengan konferensi ilmiah yang memusatkan perhatian pada upaya penanganan penyakit rabies.

Kegiatan yang mempertemukan para pakar kedokteran hewan dari Indonesia dan Jepang tersebut berlangsung di Gedung Pascasarjana Undana, Sabtu (6/6/2026).

Konferensi ini diikuti delegasi dari 23 institusi pendidikan tinggi yang tergabung dalam konsorsium AJIVE, terdiri atas 13 fakultas dan rumpun kedokteran hewan dari Indonesia serta 10 universitas dari Jepang.

Forum tersebut menjadi wadah strategis untuk memperkuat kerja sama bilateral melalui implementasi konsep One Health, yakni pendekatan terpadu yang menghubungkan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kelestarian lingkungan.

NTT Dinilai Strategis sebagai Lumbung Peternakan Nasional

Dekan Fakultas Kedokteran dan Keperawatan Hewan (FKKH) Universitas Nusa Cendana, Dr. dr. Christina Olly Lada, M.Gizi., menyampaikan kebanggaannya atas kepercayaan yang diberikan kepada Undana sebagai tuan rumah pelaksanaan AJIVE ke-10.

Menurutnya, penyelenggaraan simposium internasional di Nusa Tenggara Timur memiliki nilai strategis karena provinsi ini dikenal sebagai salah satu sentra peternakan nasional.

“NTT adalah gudang peternakan Indonesia. Kehadiran simposium internasional ini menjadi momentum emas bagi akademisi lokal untuk mendalami sains kesehatan hewan, sekaligus menegaskan komitmen Undana dalam mengawal isu-isu kesehatan satwa liar dan ternak terpadu,” ujar Christina.

Sementara itu, Rektor Universitas Nusa Cendana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., melalui sambutan tertulis yang dibacakan Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, M.Si., menegaskan bahwa karakteristik wilayah kepulauan di NTT sangat relevan dengan penerapan model penanganan penyakit berbasis One Health.

Melalui forum internasional tersebut, Undana berharap dapat melahirkan berbagai proyek penelitian bersama (joint research) yang aplikatif antara ilmuwan Indonesia dan Jepang untuk menjawab berbagai tantangan kesehatan hewan di masa depan.

Pakar Indonesia dan Jepang Bahas Strategi Pengendalian Rabies

Sesi utama konferensi menghadirkan sejumlah pembicara kunci dari berbagai universitas terkemuka. Mereka antara lain Prof. Naoaki Misawa dari University of Miyazaki, Jepang, Prof. Dr. drh. I Wayan Suardana, M.Si. dari Universitas Udayana, serta Prof. Dr. drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc. dari Universitas Nusa Cendana.

Pembahasan mengenai rabies menjadi salah satu topik yang paling mendapat perhatian dalam konferensi tersebut. Para ahli membedah berbagai aspek mulai dari pola mutasi virus rabies, pengelolaan populasi hewan penular rabies (HPR), hingga pentingnya integrasi data antara dinas peternakan dan dinas kesehatan dalam memutus rantai penularan penyakit kepada manusia.

Konferensi hari kedua ini merupakan lanjutan dari rangkaian pembukaan AJIVE ke-10 yang sebelumnya diawali dengan seremoni pembukaan dan gala dinner pada Jumat (5/6/2026) di Auditorium Universitas Nusa Cendana.

Perkuat Biosekuriti dan Cegah Penyakit Zoonosis

Pelaksanaan AJIVE ke-10 di Kupang dinilai memiliki urgensi besar dalam menghasilkan rekomendasi berbasis sains untuk menghadapi ancaman penyakit zoonosis, terutama rabies yang hingga kini masih menjadi tantangan serius di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur.

Kolaborasi antara akademisi Indonesia dan Jepang diharapkan mampu meningkatkan standar biosekuriti, memperkuat tata kelola kesehatan ternak, serta mendorong peningkatan kualitas komoditas peternakan lokal agar mampu bersaing di pasar internasional.

Selain melindungi sektor peternakan sebagai salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat, hasil-hasil riset dan rekomendasi yang lahir dari simposium ini juga diharapkan dapat meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat dari ancaman penyakit menular yang berasal dari hewan.

Melalui semangat kolaborasi dan pendekatan One Health, Simposium Internasional AJIVE ke-10 menjadi momentum penting bagi penguatan riset kesehatan hewan sekaligus mempertegas posisi Nusa Tenggara Timur sebagai kawasan strategis dalam pengembangan peternakan nasional yang sehat, produktif, dan berkelanjutan. (*/rnc)