Kupang, RakyatNTT.ID – Dua tim mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) berhasil menorehkan prestasi membanggakan dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) tingkat nasional tahun 2026.

Proposal bisnis yang mereka ajukan sukses meraih pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Keberhasilan tersebut diumumkan secara resmi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada 22 Mei 2026 dan menjadi bukti kemampuan mahasiswa Undana dalam mengembangkan inovasi yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat.

Dua proposal yang lolos pendanaan mengangkat bidang berbeda, yakni jasa pemetaan digital berbasis teknologi geospasial dan produk pangan lokal berbahan kelor untuk mendukung pencegahan stunting.

Jasa Pemetaan Digital Karya Mahasiswa Teknik Pertambangan

Pada kategori bisnis digital, tim mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Sains dan Teknik Undana berhasil lolos melalui usaha Jasa Pembuatan Peta Digital.

Tim tersebut dipimpin oleh Timothy Chealzky Endri Andrew Bere yang telah mengembangkan layanan pemetaan digital melalui akun media sosial @katakanpeta.aja.

Menurut Timothy, usaha yang dirintis sejak tahun lalu itu telah melayani berbagai kebutuhan pemetaan dari sejumlah institusi pendidikan tinggi, termasuk universitas ternama di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa data geospasial memiliki peran penting dalam mendukung penelitian akademik, perencanaan pembangunan, hingga tata kelola pemerintahan desa.

“Kami menggunakan perangkat lunak ArcGIS Pro untuk mengolah data berbasis lokasi secara detail. Ke depan, kami berencana mengembangkan fitur Web-GIS berbasis kode QR agar pelanggan dapat mengakses detail peta secara daring,” ujarnya.

Pengembangan teknologi tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan layanan sekaligus meningkatkan aksesibilitas informasi geospasial bagi masyarakat dan lembaga pengguna.

Kompiang Kelor jadi Inovasi Pangan Pencegah Stunting

Sementara itu, pada kategori makanan dan minuman, tim Sahabat Kelor dari Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undana berhasil meraih pendanaan melalui produk inovatif bernama Kompiang Kelor.

Tim yang diketuai oleh Aditia Cahya Saputra menggabungkan pangan lokal khas Nusa Tenggara Timur dengan kandungan nutrisi tinggi daun kelor untuk mendukung upaya pencegahan stunting.

Anggota tim, Dominikus Arcarius Depha Daki, menjelaskan bahwa inovasi tersebut lahir dari evaluasi produk sebelumnya berupa mi kelor.

Menurutnya, masyarakat cenderung lebih menyukai produk roti sebagai camilan sehat sehingga Kompiang Kelor dipilih sebagai alternatif pangan bergizi yang lebih mudah diterima pasar.

“Masyarakat cenderung lebih meminati roti sebagai camilan sehat. Saat ini kami sedang dalam tahap pengembangan prototipe produk berkualitas dan tengah mengurus sertifikasi NIB serta sertifikasi halal,” jelasnya.

Saat ini produk Kompiang Kelor telah dipasarkan melalui sistem pre-order dan mulai diperkenalkan kepada masyarakat dalam berbagai kegiatan publik, termasuk Car Free Day di Kota Kupang.

P2MW Dorong Mahasiswa jadi Wirausaha Muda

Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) merupakan program nasional yang bertujuan mendorong mahasiswa mengembangkan usaha rintisan berbasis inovasi dan potensi lokal.

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh dukungan pendanaan, tetapi juga mendapatkan pembinaan intensif terkait pengembangan bisnis, manajemen usaha, pemasaran, hingga penguatan kapasitas kewirausahaan.

Selain itu, peserta yang berhasil menjalankan bisnisnya berkesempatan mengikuti ajang nasional KMI Expo 2026 sebagai wadah promosi dan pengembangan jaringan usaha.

Bukti Inovasi Mahasiswa Undana Berdampak Nyata

Keberhasilan dua tim mahasiswa Undana dalam meraih pendanaan P2MW 2026 menunjukkan bahwa hasil riset dan kreativitas mahasiswa dapat dikembangkan menjadi produk dan layanan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial.

Inovasi jasa pemetaan digital diharapkan mendukung kebutuhan data geospasial yang semakin berkembang, sementara Kompiang Kelor berpotensi menjadi salah satu solusi pangan lokal untuk membantu menekan angka stunting di Nusa Tenggara Timur.

Dengan dukungan dosen pendamping dan pihak universitas, kedua usaha tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi unit bisnis yang berkelanjutan serta menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berwirausaha dan menciptakan lapangan kerja di masa depan. (*/rnc)