Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Dokter Icha Pakaenoni dikabarkan meninggal dunia di Kupang, Jumat (26/6/2026), pukul 18.30 Wita. Penyebab kematiannya belum diketahui pasti.
Pihak keluarga menyatakan informasi resmi akan disampaikan setelah penanganan medis. Salah satu kerabat dokter Icha, Victor Manbait yang dikonfirmasi membenarkan kabar kematian dokter Icha.
“Betul, saya dapat kabar dari bapak Gabriel Pakaenoni (ayah dokter Icha) di Kupang kalua dokter Icha sudah berpulang,” kata Victor.
Dokter Icha sebelumnya sempat melaporkan dugaan intimidasi yang dialaminya saat menangani pasien kasus gigitan ular di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu pada 14 Juni 2026.
Laporan tersebut disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang TTU, serta Badan Kehormatan DPRD TTU.
Langkah pelaporan dilakukan setelah Dokter Icha menyelesaikan masa perawatan selama tujuh hari di RS Leona dan diperbolehkan pulang pada 21 Juni 2026 dengan tetap menjalani kontrol kesehatan secara berkala.
Pada 22 Juni 2026, sehari setelah keluar dari rumah sakit, Dokter Icha yang didampingi ayahnya, Gabriel Pakaenoni, mendatangi Dinas Kesehatan Kabupaten TTU untuk menyampaikan laporan secara langsung kepada Kepala Dinas Kesehatan.
Selanjutnya, atas permintaan Kepala Dinas Kesehatan, pada 23 Juni 2026 Dokter Icha menyerahkan laporan tertulis yang memuat kronologi lengkap kejadian. Laporan serupa juga disampaikan kepada IDI Cabang TTU, baik secara lisan maupun tertulis.
Mengaku Mengalami Tekanan saat Menjalankan Tugas Medis
Dalam laporannya, Dokter Icha mengaku mengalami tekanan dan intimidasi dari tiga orang yang disebut mengaku sebagai anggota DPRD TTU saat dirinya menangani pasien gigitan ular di IGD RS Leona.
Menurut Dokter Icha, dirinya diminta melakukan tindakan medis tertentu yang dinilai tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP), pertimbangan medis, serta pedoman penanganan pasien yang berlaku.
Ia menegaskan bahwa seluruh keputusan medis yang diambil saat itu dilakukan berdasarkan kondisi pasien, standar pelayanan kesehatan, serta hasil konsultasi dengan dokter ahli yang berwenang.
Dokter Icha menyatakan bahwa sebagai tenaga kesehatan, dirinya berkewajiban menjalankan pelayanan sesuai kode etik profesi dan pertimbangan medis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Nama Tiga Anggota DPRD Dicantumkan dalam Laporan
Dalam laporan yang disampaikan kepada pihak terkait, Dokter Icha mencantumkan nama tiga anggota DPRD TTU yang disebut terlibat dalam peristiwa tersebut.
Salah satunya adalah Robert Tubani. Menurut laporan Dokter Icha, Robert berbicara dengan nada tinggi sambil menunjuk dirinya dan menyatakan bahwa dirinya merupakan anggota DPRD TTU Komisi III yang bermitra dengan Dinas Kesehatan.
Selain itu, Veronika Lake yang disebut sebagai anggota DPRD dari PDI Perjuangan juga dilaporkan mendesak agar dilakukan tindakan tertentu terhadap pasien.
Dalam laporan tersebut, Veronika disebut berulang kali meminta agar pasien diberikan vaksin setelah enam jam kejadian serta meminta wartawan dipanggil ke rumah sakit.
Sementara itu, Trens Lasakar yang disebut masih memiliki hubungan keluarga dengan pasien dilaporkan mempertanyakan sejumlah tindakan medis yang dilakukan tenaga kesehatan, termasuk pemasangan infus dan pemberian obat kepada pasien.
Adukan Dugaan Pelanggaran Etik ke Badan Kehormatan DPRD
Merasa mengalami intervensi saat menjalankan tugas profesionalnya, Dokter Icha melalui ayahnya kemudian mengadukan dugaan pelanggaran etik yang dilakukan ketiga anggota DPRD tersebut kepada Badan Kehormatan DPRD TTU.
Gabriel Pakaenoni berharap laporan tersebut dapat diproses sesuai mekanisme yang berlaku sehingga memberikan perlindungan bagi tenaga kesehatan yang menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
“Kami berharap melalui Badan Kehormatan DPRD, pengaduan ini dapat diteliti dan diproses sesuai mekanisme serta ketentuan yang berlaku sehingga memberikan perlindungan bagi tenaga kesehatan yang menjalankan tugas pelayanan di Kabupaten TTU,” ujarnya.
Ia juga berharap hasil pemeriksaan nantinya dapat menjadi pembelajaran bersama agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi terhadap tenaga kesehatan di masa mendatang. (rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan