“Penguatan kelompok petani muda dapat membantu memperkuat rantai pasok pangan di tingkat lokal. Dengan rantai pasok yang kuat, kita dapat berkontribusi secara langsung dalam memastikan keberagaman pangan yang pada akhirnya akan meningkatkan gizi anak,” tegas Setyo.

Di Kabupaten TTS sendiri, pendekatan YLAF terbukti memberikan dampak signifikan. Program ini berhasil melibatkan 411 petani muda, di mana 60% di antaranya merupakan perempuan. Kelompok ini juga sukses mengembangkan 50 hektare lahan produktif dan memperkuat 39 kelompok tani muda di daerah tersebut.

“Program Youth-Led Agri-food menunjukkan bahwa ketika pemuda, khususnya perempuan muda, diberikan akses terhadap pengetahuan, pendampingan, dan peluang pasar, mereka mampu menjadi penggerak utama transformasi pertanian yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan,” jelas Muchammad Umam, Direktur Pengembangan Kualitas Program & Kemitraan Plan Indonesia.

Bagi masyarakat Flores Timur, keterampilan baru ini diharapkan menjadi solusi strategis untuk menekan tingginya angka migrasi kerja berisiko ke luar negeri akibat keterbatasan ekonomi. Pertanian berkelanjutan memberikan ruang bagi kaum muda untuk memegang kontrol ekonomi secara mandiri.