Sementara itu, Ketua Bawaslu NTT, Nonato Da Purificacao Sarmento, menilai perguruan tinggi merupakan mitra strategis dalam pendidikan pemilih dan penguatan demokrasi.

“Keterlibatan akademisi sangat penting untuk meningkatkan kekritisan masyarakat terhadap proses dan hasil pemilu,” kata Nonato.

Soroti Persoalan Data Pemilih Mahasiswa

Dalam pertemuan tersebut, Bawaslu NTT turut menyoroti persoalan pemutakhiran data pemilih bagi mahasiswa rantau di Kota Kupang.

Anggota Bawaslu NTT, James Welem Ratu dan Magdalena Yuanita Wake, mengungkapkan masih banyak mahasiswa yang tinggal dan beraktivitas di Kupang, namun tetap terdaftar sebagai pemilih di daerah asal mereka.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat hak pilih mahasiswa saat pemungutan suara berlangsung.

“Perlu ada imbauan bagi mahasiswa yang sudah menetap lebih dari enam bulan untuk memperbarui domisili. Hal ini krusial agar mereka dapat masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) sesuai lokasi keberadaan mereka saat pemungutan suara,” jelas Magdalena.

Pengembangan SDM Pengawas Pemilu

Selain membahas pendidikan politik dan administrasi pemilih, audiensi yang turut dihadiri Kepala Bagian Siman Halisi itu juga membicarakan pengembangan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan Bawaslu NTT.