Menurutnya, anak-anak usia sekolah dasar sangat rentan mengalami kerusakan gigi, terutama pada gigi susu yang lebih mudah berlubang dibandingkan gigi permanen. Karena itu, pencegahan dan edukasi harus dilakukan sejak dini agar pertumbuhan gigi permanen anak tetap sehat.

Ia menjelaskan, tindakan pencabutan gigi umumnya dilakukan pada siswa kelas 1 dan 2 SD karena pada usia tersebut sedang terjadi proses pergantian gigi susu ke gigi permanen, khususnya pada bagian depan dan bawah.

“Kalau bisa targetnya semua sekolah, tetapi dilakukan secara bertahap karena kegiatan bakti sosial ini hanya dilaksanakan sekali dalam setahun,” katanya.

Selain pemeriksaan kesehatan gigi, para siswa juga diberikan edukasi tentang cara menyikat gigi yang baik dan benar. Para dokter gigi mempraktikkan langsung teknik menyikat gigi yang tepat agar mudah dipahami dan diterapkan oleh anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.

Dimas berharap melalui kegiatan tersebut, para guru, siswa maupun orang tua semakin sadar bahwa kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan anak secara keseluruhan.

“Semoga semua guru, murid dan orang tua lebih sadar bahwa kesehatan gigi dan mulut itu sangat penting untuk kesehatan anak-anak,” tambahnya.