Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) Universitas Nusa Cendana (Undana) melakukan riset lapangan di kawasan padang penggembalaan Bukit Teletubbies, Kelurahan Lelogama, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, Sabtu (9/5/2026).
Kegiatan praktikum mata kuliah Tatalaksana Pastura tersebut bertujuan menganalisis potensi, karakteristik, serta tantangan pengelolaan pakan ternak di salah satu kawasan strategis peternakan lahan kering di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Didampingi dosen pakar peternakan, Ir. Dominggus B. Osa, M.P., para mahasiswa melakukan observasi lapangan, pengambilan data vegetasi, hingga analisis kapasitas tampung lahan untuk merumuskan solusi pengelolaan pastura yang berkelanjutan.
Bukit Teletubbies Potensial jadi Sumber Pakan Ternak
Hasil penelitian menunjukkan kawasan Bukit Teletubbies memiliki potensi besar sebagai sumber pakan ternak ruminansia karena didominasi rumput alam berkualitas seperti Chloris gayana, Panicum maximum, Heteropogon contortus, dan Cynodon dactylon.
Vegetasi tersebut tercatat memiliki kandungan protein kasar rata-rata berkisar 5,2 persen hingga 7,8 persen sehingga dinilai cukup baik untuk mendukung kebutuhan pakan ternak.
Namun demikian, tim praktikum juga menemukan sejumlah tantangan dalam pengelolaan padang penggembalaan. Komposisi tanaman legum atau kacang-kacangan sebagai sumber nutrisi tambahan masih sangat rendah, yakni di bawah 5 persen.
Di sisi lain, keberadaan gulma atau tanaman pengganggu mencapai 7 hingga 12 persen dan berpotensi menurunkan kualitas hijauan pakan ternak.
“Produksi biomassa hijauan di sini sangat fluktuatif. Pada musim hujan bisa mencapai 3,2 ton per hektar, namun saat kemarau merosot drastis hingga di bawah 1 ton,” jelas Ir. Dominggus B. Osa.
Penggembalaan Tradisional Picu Tekanan Lahan
Riset lapangan tersebut juga mengungkap rendahnya kapasitas tampung lahan yang hanya berkisar 0,35–0,50 ST per hektar per tahun. Kondisi itu diperparah dengan pola penggembalaan tradisional tanpa sistem rotasi yang memicu tekanan berlebih terhadap lahan.
Mahasiswa menemukan indikasi degradasi tanah mulai terjadi, terutama pada area dengan populasi ternak yang tinggi.
Selain faktor alam, produktivitas kawasan Bukit Teletubbies juga terkendala terbatasnya sumber air dan minimnya penerapan teknologi konservasi tanah serta air.
Jika tidak dibarengi intervensi teknologi dan manajemen pastura modern, potensi kawasan tersebut dinilai belum mampu dimaksimalkan untuk mendukung ketahanan pangan dan pengembangan peternakan daerah.
Wujud Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi
Kegiatan praktikum ini menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana mahasiswa didorong menghubungkan teori akademik dengan kondisi nyata di lapangan.
Melalui penghitungan produksi hijauan dan identifikasi daya dukung tanah, mahasiswa diharapkan mampu menyusun rekomendasi teknis pengelolaan pastura yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Langkah tersebut sekaligus menegaskan peran Universitas Nusa Cendana sebagai institusi akademik dan riset yang aktif mencari solusi nyata bagi masa depan industri peternakan NTT yang lebih produktif, hijau, dan adaptif terhadap perubahan iklim. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan