Dampak dari konflik ini turut mendorong penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak Brent lebih dari 5%. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga menekan permintaan.

Di sisi lain, kenaikan harga energi memperbesar kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Barclays bahkan memperkirakan tidak akan ada pelonggaran kebijakan moneter dari The Fed sepanjang tahun ini. Pekan lalu, bank sentral AS itu mempertahankan suku bunga dalam keputusan yang paling terpecah sejak 1992.

Iklan

Sejumlah data ekonomi penting juga dinantikan pasar pekan ini, seperti data lowongan kerja AS, laporan ketenagakerjaan ADP, serta payroll April yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter selanjutnya.

Meski emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, daya tariknya cenderung menurun dalam kondisi suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.

Bart Melek menambahkan, level support kuat emas saat ini berada di kisaran US$4.200 per troy ons. Namun, ketidakpastian global dan potensi kenaikan suku bunga masih dapat mendorong investor keluar dari pasar dalam jangka pendek.