Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ia juga menyoroti fenomena meningkatnya ketergantungan manusia terhadap Artificial Intelligence (AI). Meski demikian, ia menegaskan bahwa kecerdasan manusia tetap memiliki keunggulan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
“AI dapat memberikan berbagai teori, namun tidak memiliki pengalaman empiris. Guru besar menghadirkan konteks, makna, serta menghubungkan ilmu dengan realitas sosial,” jelasnya.
Menurutnya, esensi seorang guru besar terletak pada Humanistic Intelligence (H.I.), yakni kecerdasan yang mencakup nurani, empati, dan kepekaan, yang tidak dapat direplikasi oleh algoritma AI.
Dalam acara tersebut, ketiga guru besar juga menyampaikan orasi ilmiah sesuai bidang kepakaran masing-masing. Prof. Linda W. Fanggidae mengangkat tema arsitektur dan perilaku manusia, Prof. William Djani membahas reformasi kebijakan desentralisasi dalam administrasi publik, sementara Prof. Zakaris Seba Ngara memaparkan riset tentang karbon nanodots berbasis material organik.
Pengukuhan ini diharapkan tidak hanya menjadi pencapaian akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah melalui penguatan riset dan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat. (*/rnc)
