Kupang, RakyatNTT.ID Program SIAP SIAGA bekerja sama dengan BPBD Kota Kupang dan Grab menggelar kegiatan Training dan Simulasi Ruang SOP bagi Top Ranger Kota Kupang, Selasa (21/4/2026).

Kegiatan ini berlangsung di Podium Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Kupang sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas respon cepat berbasis komunitas.

Pelibatan mitra pengemudi transportasi daring sebagai relawan penolong pertama menjadi fokus utama kegiatan ini. Mereka diharapkan mampu bertindak cepat dalam situasi darurat, terutama pada menit-menit krusial yang menentukan keselamatan korban.

Assistant Program Manager pada The Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), Yiyik Putri, menyampaikan apresiasi Pemerintah Australia terhadap inisiatif tersebut. Menurutnya, langkah ini merupakan inovasi strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.

“Melibatkan rekan-rekan pengemudi Grab sebagai respons pertama di lapangan adalah sebuah terobosan strategis. Dalam situasi darurat, kecepatan respons pada menit-menit pertama seringkali menjadi faktor penentu keselamatan jiwa,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan kelompok rentan dalam sistem kesiapsiagaan. “Ketangguhan tidak hanya tentang sistem komunikasi atau evakuasi saja, tetapi juga memastikan kelompok paling rentan seperti penyandang disabilitas dan lansia dapat dilibatkan dan dilayani dengan lebih baik saat krisis,” tambahnya.

Team Leader SIAP SIAGA, Lucy Dickinson, menegaskan bahwa kolaborasi multipihak menjadi kunci dalam membangun sistem kesiapsiagaan kota. Menurutnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan bencana.

“Kehadiran transportasi daring seperti Grab merupakan bukti nyata kontribusi sektor swasta sebagai pilar pentahelix. Dengan mobilitas 24 jam, para pengemudi menjadi garda terdepan dalam mengawal kecepatan respons di menit-menit kritis,” jelas Lucy.

Top Ranger sendiri merupakan singkatan dari Transportasi Online Peduli Penanganan Bencana Terintegrasi, sebuah inisiatif kolaboratif yang digagas BPBD Kota Kupang untuk menjawab keterbatasan sumber daya manusia dalam penanganan bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang, Ernest S. Ludji, M.Si, turut mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah, SIAP SIAGA, Grab, dan mitra lainnya. Ia menilai pengemudi transportasi daring memiliki peran penting dalam deteksi awal kejadian di lapangan.

“Teman-teman Grab adalah pihak yang terlebih dahulu mengetahui ketika ada kejadian. Karena itu, keterlibatan mereka dalam simulasi ini sangat penting agar kita memahami peran masing-masing di menit-menit kritis,” ungkapnya.

Sebanyak 15 pengemudi Grab dan anggota kelompok disabilitas PERTUNI mengikuti kegiatan ini. Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pelatihan Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) dari pengajar Politeknik Kesehatan Kupang, Dominggos Gonsalves.

Pelatihan ini bertujuan membekali peserta dengan kemampuan pertolongan pertama pada korban henti napas dan henti jantung mendadak melalui teknik kompresi dada dan napas buatan, guna mencegah kerusakan otak atau kematian.

Sesi berikutnya diisi dengan pelatihan teknik pemindahan darurat korban, termasuk penanganan bagi penyandang disabilitas oleh Tim Reaksi Cepat BPBD Kota Kupang. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan simulasi SOP Sistem Peringatan Dini Inklusi serta SOP pelaporan kejadian bencana menggunakan aplikasi Lapor Cepat milik BPBD Provinsi NTT.

Ernest menambahkan bahwa pelatihan ini akan diperluas secara bertahap kepada lebih banyak mitra pengemudi daring di Kota Kupang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesiapsiagaan Nasional 2026 sekaligus upaya memperkuat implementasi sistem peringatan dini inklusif di tingkat kota. Simulasi yang dilakukan berjalan lancar dengan partisipasi aktif dari seluruh peserta.

Sebagai informasi, Program SIAP SIAGA merupakan kemitraan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia yang berfokus pada penguatan pengelolaan risiko bencana di tingkat nasional maupun daerah. (*/rnc)