Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Team Leader SIAP SIAGA, Lucy Dickinson, menegaskan bahwa kolaborasi multipihak menjadi kunci dalam membangun sistem kesiapsiagaan kota. Menurutnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan bencana.
“Kehadiran transportasi daring seperti Grab merupakan bukti nyata kontribusi sektor swasta sebagai pilar pentahelix. Dengan mobilitas 24 jam, para pengemudi menjadi garda terdepan dalam mengawal kecepatan respons di menit-menit kritis,” jelas Lucy.
Top Ranger sendiri merupakan singkatan dari Transportasi Online Peduli Penanganan Bencana Terintegrasi, sebuah inisiatif kolaboratif yang digagas BPBD Kota Kupang untuk menjawab keterbatasan sumber daya manusia dalam penanganan bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang, Ernest S. Ludji, M.Si, turut mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah, SIAP SIAGA, Grab, dan mitra lainnya. Ia menilai pengemudi transportasi daring memiliki peran penting dalam deteksi awal kejadian di lapangan.
“Teman-teman Grab adalah pihak yang terlebih dahulu mengetahui ketika ada kejadian. Karena itu, keterlibatan mereka dalam simulasi ini sangat penting agar kita memahami peran masing-masing di menit-menit kritis,” ungkapnya.
Sebanyak 15 pengemudi Grab dan anggota kelompok disabilitas PERTUNI mengikuti kegiatan ini. Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pelatihan Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) dari pengajar Politeknik Kesehatan Kupang, Dominggos Gonsalves.
