Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Berdasarkan data Refinitiv, hingga pukul 09.20 WIB, rupiah tercatat melemah 0,55 persen ke level Rp17.370 per dolar AS.

Pelemahan ini semakin dalam dibandingkan posisi pembukaan perdagangan, di mana rupiah sebelumnya sudah dibuka turun 0,38 persen ke level Rp17.340 per dolar AS.

Mendekati Level Psikologis Rp17.400

Dengan pergerakan tersebut, rupiah kini semakin menjauh dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.275 per dolar AS. Mata uang Garuda juga kian mendekati level psikologis Rp17.400, yang mencerminkan tekanan masih berlanjut di pasar.

Dampak Kebijakan The Fed

Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh keputusan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang kembali menahan suku bunga. Kebijakan ini membuat ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga AS menjadi semakin terbatas.

Kondisi tersebut mendorong dolar AS tetap kuat di pasar global, sehingga menarik minat investor untuk menempatkan dananya pada aset berbasis dolar.

Sentimen Global Perkuat Dolar

Selain faktor kebijakan moneter AS, ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik di Iran, turut memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.

Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia, sehingga investor cenderung beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.

Rupiah Masih Rentan

Dengan kombinasi faktor eksternal tersebut, rupiah dinilai masih berada dalam tekanan dalam jangka pendek. Penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global menjadi tantangan bagi stabilitas nilai tukar di pasar domestik. (*/rnc)