Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (14/4/2026). Rupiah tercatat turun 22 poin atau sekitar 0,13 persen ke level Rp17.127 per dolar AS.
Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di posisi Rp17.142 per dolar AS, mencerminkan tekanan yang cukup kuat di pasar valuta asing.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Ia menjelaskan bahwa munculnya sinyal dialog antara kedua negara sempat meredakan kekhawatiran terkait gangguan pasokan energi global, menyusul kebijakan blokade AS di Selat Hormuz.
“Militer AS menyatakan blokade akan meluas hingga Teluk Oman dan Laut Arab, sementara data pelacakan kapal menunjukkan adanya kapal yang berbalik arah saat kebijakan itu mulai berlaku,” ujar Ibrahim dalam risetnya.
Di sisi lain, Iran merespons dengan ancaman menargetkan pelabuhan negara-negara di kawasan Teluk, setelah perundingan yang berlangsung di Islamabad tidak mencapai kesepakatan.
Meski demikian, sumber terkait menyebutkan dialog antara AS dan Iran masih terus berlangsung. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga menegaskan bahwa upaya meredakan ketegangan masih dilakukan.
Lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional turut mengingatkan negara-negara agar tidak melakukan penimbunan energi atau pembatasan ekspor, di tengah guncangan besar pasar energi global.
Dari dalam negeri, ketidakpastian global turut memengaruhi aktivitas dunia usaha. Pelaku bisnis cenderung mengambil sikap wait and see akibat eskalasi konflik dan belum adanya kepastian arah negosiasi AS-Iran.
Hal ini tercermin dari menurunnya ekspektasi kegiatan bisnis serta stagnasi penjualan. Meski demikian, ekspansi usaha tidak sepenuhnya berhenti, melainkan mengalami penyesuaian strategi.
Pelaku usaha kini lebih berhati-hati dengan menunda ekspansi besar yang padat modal, dan beralih fokus pada efisiensi operasional. Investasi juga mulai diarahkan ke sektor yang lebih tahan terhadap gejolak, seperti pangan, energi, dan digital.
Sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan tersebut antara lain ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga energi dan logistik, tekanan nilai tukar rupiah, melemahnya permintaan global, serta tingginya biaya pembiayaan.
Berdasarkan kondisi tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan selanjutnya akan tetap fluktuatif dan berpotensi melemah dalam kisaran Rp17.120 hingga Rp17.170 per dolar AS. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

