Lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional turut mengingatkan negara-negara agar tidak melakukan penimbunan energi atau pembatasan ekspor, di tengah guncangan besar pasar energi global.

Dari dalam negeri, ketidakpastian global turut memengaruhi aktivitas dunia usaha. Pelaku bisnis cenderung mengambil sikap wait and see akibat eskalasi konflik dan belum adanya kepastian arah negosiasi AS-Iran.

Hal ini tercermin dari menurunnya ekspektasi kegiatan bisnis serta stagnasi penjualan. Meski demikian, ekspansi usaha tidak sepenuhnya berhenti, melainkan mengalami penyesuaian strategi.

Iklan

Pelaku usaha kini lebih berhati-hati dengan menunda ekspansi besar yang padat modal, dan beralih fokus pada efisiensi operasional. Investasi juga mulai diarahkan ke sektor yang lebih tahan terhadap gejolak, seperti pangan, energi, dan digital.

Sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan tersebut antara lain ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga energi dan logistik, tekanan nilai tukar rupiah, melemahnya permintaan global, serta tingginya biaya pembiayaan.

Berdasarkan kondisi tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan selanjutnya akan tetap fluktuatif dan berpotensi melemah dalam kisaran Rp17.120 hingga Rp17.170 per dolar AS. (*/rnc)