Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Awalnya saya merasa gugup, tetapi siswa di sana sangat aktif dan suportif. Mereka bahkan mendorong saya untuk terus percaya diri saat mengajar,” ujar Rapi Mesa Valentino Poa.
Pengalaman serupa juga disampaikan Selfisina Sarah Samadara yang menilai pola komunikasi dua arah di kelas menjadi indikator kuat dalam pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa.
“Mereka tidak hanya menjawab, tetapi juga menjelaskan proses berpikir mereka. Ini menunjukkan pembelajaran yang benar-benar melatih nalar,” ungkapnya.
Keberhasilan interaksi di kelas tersebut didukung oleh perencanaan pembelajaran yang sistematis dan terstruktur. Para pengajar di Filipina menerapkan berbagai model pembelajaran modern, seperti discovery learning serta model siklus belajar 5E hingga 7E (Engage, Explore, Explain, Elaborate, Evaluate).
Helya Sherisya Messakh menambahkan bahwa penyusunan lesson plan yang detail membantu proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan terarah.
“Dengan perencanaan yang matang, interaksi antara pengajar dan siswa menjadi lebih hidup, meskipun materi yang diajarkan tergolong baru,” jelasnya.
Pengalaman internasional ini menjadi modal penting bagi Undana dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan kampus. Sekembalinya ke Indonesia, para mahasiswa siap mengadaptasi berbagai strategi, mulai dari penerapan student-centered learning, penguatan literasi dan budaya bertanya, hingga pengembangan metode pembelajaran kreatif dan sistematis.
