Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Berefleksi dari Lukas 24:13-35, para murid dalam perjalanan ke Emaus tidak mengenali Kristus yang berjalan bersama mereka, sampai momentum pemecahan roti membuka mata mereka.
Setelah itu, mereka tidak tinggal diam menikmati pencerahan melainkan segera bergegas kembali ke Yerusalem, sebuah kota yang penuh risiko, ketegangan, dan luka yang belum sembuh. Bagi GMKI Kupang, Yerusalem kita adalah NTT hari ini.
Jalan raya kemanusiaan kita melewati daerah-daerah yang ditinggalkan pembangunan, lorong-lorong perdagangan manusia, meja-meja birokrasi yang menentukan nasib ribuan pegawai, ruang-ruang sidang yang tidak adil, dan kamar-kamar gelap tempat tubuh anak-anak dihancurkan secara diam-diam. Inilah konteks salib pelayanan yang harus dipikul kader GMKI-Kupang.
II. Membaca Luka NTT: Tubuh Kemanusiaan yang Menanti Kebangkitan
Roma 12:2 memberi kita perintah yang sekaligus merupakan fondasi advokasi: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu.” Pembaruan akal budi adalah akar dari setiap tindakan perjuangan. Tanpa pertobatan cara pandang, advokasi hanya akan menjadi eksistensi tanpa kasih dan gerakan tanpa jiwa.
Bila kita benar-benar memandang NTT dengan mata yang telah dibarui, kita akan melihat satu tubuh kemanusiaan yang terluka dan berdarah di banyak bagian sekaligus. Luka-luka itu tidak berdiri sendiri, mereka saling terhubung dalam satu perjalanan tentang martabat manusia yang belum sepenuhnya dipulihkan.
Tubuh yang Lapar: Kemiskinan sebagai Akar dari Segala Luka
Kita harus berani menyebut akarnya dari segala luka yaitu kemiskinan struktural yang telah bersatu dalam kehidupan jutaan warga NTT selama puluhan tahun. NTT secara konsisten berada di antara tiga provinsi termiskin di Indonesia.
