Selain itu, KSP TLM Indonesia juga meraih predikat koperasi sehat serta opini wajar tanpa pengecualian dari lembaga independen.

Pemberdayaan Berbasis Sektor Riil

Tak hanya fokus pada pembiayaan, KSP TLM Indonesia juga mengembangkan konsep hilirisasi di sektor pertanian. Melalui kolaborasi dengan instansi pemerintah, program ini mampu meningkatkan produksi padi dan jagung hingga 25 persen di NTT.

Hasil produksi tersebut dipasarkan melalui koperasi spin-off TLM La-Cove yang berperan sebagai offtaker dengan nilai transaksi mencapai Rp21,8 miliar.

Iklan

“Kami menciptakan agen beras di Kabupaten Kupang dan Flores Barat, serta mengembangkan produksi kopi. Caffe La-Cove bertindak sebagai offtaker yang menyalurkan hasil melalui jaringan cabang,” jelasnya.

Kinerja Keuangan dan Keanggotaan Meningkat

Selain pertumbuhan aset, KSP TLM Indonesia juga mencatat kenaikan Sisa Hasil Usaha (SHU) menjadi Rp172 miliar. Ekuitas modal mencapai 43 persen atau setara Rp592,3 miliar.

Jumlah anggota juga meningkat signifikan menjadi 340.117 orang, bertambah sekitar 27.000 anggota dalam satu tahun terakhir.

Saat ini, KSP TLM Indonesia memiliki 59 kantor cabang yang tersebar di lima provinsi, yakni Nusa Tenggara Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat.