Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Hal ini turut berdampak pada harga minyak dunia yang mulai menurun dan kembali berada di bawah level 100 dolar AS per barel. Penurunan harga minyak membantu meredakan tekanan inflasi global yang sempat meningkat akibat konflik geopolitik.
Namun demikian, pelaku pasar masih mencermati ketidakpastian terkait pertumbuhan ekonomi global di tengah potensi kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026 memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen pada tahun ini, turun dari sebelumnya 3,3 persen.
Penurunan ini dipicu oleh lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah serta gangguan distribusi di Selat Hormuz.
IMF juga menyiapkan sejumlah skenario risiko. Dalam skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi global dapat merosot hingga 2 persen, dengan harga minyak diperkirakan mencapai 110 dolar AS per barel pada 2026 dan 125 dolar AS pada 2027.
Sementara itu, dalam skenario dasar, IMF memperkirakan konflik berlangsung singkat dengan harga minyak rata-rata 82 dolar AS per barel pada 2026. Namun, ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyebut kondisi saat ini cenderung bergerak menuju skenario yang lebih buruk.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

