Sementara itu, kelompok sasaran utama seperti anak-anak dan keluarga hanya memperoleh sekitar 6,5 persen manfaat.

Persepsi ketimpangan ini ditemukan merata di berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pekerja informal hingga aparatur sipil negara (ASN), dan diperkuat oleh pengalaman langsung penerima program.

Data hasil riset Porec

Kualitas Makanan Disorot

Sejumlah responden juga mengungkapkan berbagai persoalan di lapangan. Mulai dari menu yang tidak sesuai standar gizi, praktik dugaan mark-up bahan baku, hingga kualitas makanan yang terus menurun.

Seorang ibu rumah tangga mengaku makanan yang diberikan terkadang hanya berupa roti biasa. Sementara itu, pegawai swasta menyoroti dugaan keterlibatan kerabat elit dalam pengelolaan program yang dinilai tidak transparan.

Keluhan serupa datang dari kalangan wirausaha dan ASN yang menilai kualitas menu semakin menurun setiap bulan. Bahkan, mahasiswa menyoroti tidak adanya audit independen serta minimnya ruang kritik dari masyarakat.

Gelombang Kritik dan Perlawanan Sipil

Di tengah kondisi tersebut, mayoritas masyarakat tidak tinggal diam. Sebanyak 97,8 persen responden menyatakan akan menyuarakan kritik melalui media sosial, kanal resmi pemerintah, hingga aksi kolektif seperti petisi dan demonstrasi.