Di banyak desa, perempuan adalah pekerja utama tetapi bukan pengambil keputusan utama. Mereka menopang ekonomi keluarga, namun suara mereka kadang belum menentukan arah keluarga maupun komunitas.

Inilah yang disebut Amartya Sen sebagai capability deprivation bukan hanya kekurangan pendapatan, tetapi keterbatasan kesempatan untuk memilih hidup yang bernilai. Amartya Sen menekankan bahwa pembangunan sejati adalah memperluas kebebasan manusia, termasuk kebebasan perempuan untuk belajar, bekerja, memimpin, dan menentukan masa depannya.

Pendidikan Perempuan: Jalan Paling Strategis

Kartini meyakini pendidikan sebagai instrumen pembebasan. Gagasan itu tetap aktual di NTT. Data BPS menunjukkan IPM NTT tahun 2025 meningkat menjadi 69,89, namun masih menunjukkan kebutuhan percepatan terutama pada dimensi pengetahuan dan standar hidup. Rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas berada pada 8,22 tahun.

Angka ini penting dibaca secara kritis. Rata-rata lama sekolah 8,22 tahun berarti banyak warga belum menyelesaikan pendidikan menengah penuh. Dalam konteks perempuan, situasi ini berpotensi memperpanjang lingkaran ketimpangan antargenerasi.

Kajian UNESCO dan Bank Dunia berulang kali menegaskan bahwa pendidikan perempuan berdampak langsung pada: