“Buat saya, siapapun ketua di Belu tidak ada masalah. Karena tugas utama ketua adalah konsolidasikan partai sampai tingkat desa atau kelurahan,” tegasnya.

Agustinus yang juga anggota DPRD NTT periode 2024-2029 ini menegaskan, Golkar adalah partai kader dan harus selalu tunduk dan taat pada regulasi, AD/ART, juknis dan juklak Partai Golkar.

“Golkar sebagai partai kader tidak boleh tergantung pada salah satu figur saja. Untuk itu saya mengajak kader golkar di Belu untuk mengembalikan kejayaan Golkar di Belu seperti di Malaka dimana Bupati dan Ketua DPRD-nya sama-sama dari Golkar dan di TTU yang Ketua DPRD-nya dari Partai Golkar,” ungkapnya.

Iklan

Untuk diketahui, Partai Golkar Belu di masa kepemimpinan Yohanes Jefri Nahak alias Epy Nahak sejak 2014-2019 dan 2019-2024 mengalami kemunduran. Pada Pemilu 2019, Partai Golkar meraih 4 kursi yang berhasil merebut kursi Wakil Ketua. Namun di Pemilu 2024, Golkar hanya meraih tiga kursi dan Epy Nahak harus merelakan kursi wakil ketua DPRD Belu. Nasib apes masih terus berlangsung hingga Pilkada Belu 2024.

Pada Pilkada Belu, Golkar mengusung calon petahana, namun kembali gagal memenangkan pertarungan dalam pilkada. (*/rnc)