Kupang, RakyatNTT.ID – Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Amanuban Timor Tengah Selatan (IKMABAN-TTS), Sandro Seo, menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya seorang siswa SD Opelu akibat runtuhnya bangunan sekolah.

Peristiwa tragis yang terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ini dinilai bukan sekadar musibah, melainkan cerminan lemahnya perhatian terhadap kondisi infrastruktur pendidikan, khususnya di wilayah pelosok.

Dalam pernyataan resminya pada Jumat (20/3/2026), Sandro menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah agar tidak lagi mengabaikan kondisi sekolah yang jauh dari pusat kota.

Iklan

“Ini adalah alarm keras bagi pemerintah. Generasi penerus bangsa tidak boleh menjadi korban karena kelalaian dalam memperhatikan fasilitas pendidikan,” tegasnya.

Ia menilai sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak siswa di daerah terpencil yang menghadapi risiko keselamatan akibat bangunan sekolah yang tidak layak.

Menurut Sandro, selama ini perhatian terhadap sekolah di pelosok cenderung bersifat reaktif, yakni baru dilakukan setelah terjadi bencana. Padahal, kerusakan infrastruktur dapat dicegah melalui pengawasan rutin serta pembangunan yang merata.

“Bagaimana generasi bangsa mau maju jika di tingkat sekolah dasar saja mereka harus mempertaruhkan nyawa untuk belajar?” ujarnya.

IKMABAN-TTS juga menyoroti bahwa korban meninggal dunia bukan akibat penyakit atau kecelakaan di luar sekolah, melainkan karena runtuhnya fasilitas pendidikan yang seharusnya menjamin keselamatan siswa.

Organisasi tersebut menilai tragedi di SD Opelu sebagai tamparan keras bagi seluruh pemangku kebijakan di Kabupaten TTS. Kejadian ini disebut sebagai bukti masih minimnya pembangunan infrastruktur dan fasilitas dasar pendidikan di daerah tersebut.

Karena itu, IKMABAN-TTS mendesak Pemerintah Daerah TTS untuk segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi sekolah-sekolah, terutama di wilayah terpencil.

Pemerintah juga diminta tidak hanya hadir setelah adanya korban, tetapi mengambil langkah preventif agar tragedi serupa tidak kembali terulang.

“Nyawa anak-anak tidak boleh menjadi harga yang harus dibayar akibat kurangnya perhatian terhadap pendidikan. Ini saatnya pemerintah bertindak nyata, bukan sekadar merespons setelah ada korban,” tutup Sandro Seo.

IKMABAN-TTS berharap peristiwa ini menjadi momentum evaluasi besar terhadap kebijakan pembangunan pendidikan di TTS, demi menjamin keselamatan dan masa depan generasi muda di daerah tersebut. (*/rnc)