Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Harga minyak yang tinggi biasanya mendorong inflasi, sehingga bank sentral cenderung lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Selain faktor geopolitik, investor juga menantikan rilis data tenaga kerja Amerika Serikat, khususnya laporan non-farm payrolls (NFP) Februari yang dijadwalkan dirilis pada Jumat waktu setempat.
Data tersebut dinilai penting untuk memberikan gambaran terbaru mengenai kekuatan pasar tenaga kerja AS sekaligus arah kebijakan moneter The Fed. Jika hasilnya lebih kuat dari perkiraan, peluang penundaan pemangkasan suku bunga oleh The Fed akan semakin besar.
Dari dalam negeri, sentimen juga datang dari perhatian lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings yang menurunkan prospek (outlook) Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Salah satu sorotan utama Fitch adalah rendahnya tax ratio Indonesia yang selama satu dekade terakhir berada di kisaran 9 hingga 10 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Bahkan pada 2025, rasio pajak Indonesia tercatat turun dari 10,08 persen pada 2024 menjadi 9,31 persen.
Fitch memproyeksikan rasio pendapatan negara terhadap PDB Indonesia hanya mencapai rata-rata 13,3 persen pada periode 2026–2027. Angka tersebut jauh di bawah median negara dengan peringkat setara kategori “BBB” yang mencapai 25,5 persen terhadap PDB.
