Jakarta, RakyatNTT.ID Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (6/3/2026). Mata uang Garuda turun 20 poin atau sekitar 0,12 persen ke level Rp16.925 per dolar AS, mendekati ambang psikologis Rp17.000.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen eksternal, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah yang memasuki hari ketujuh tanpa tanda-tanda mereda.

Menurut Ibrahim, pertempuran antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin meningkat dalam sepekan terakhir. Serangan rudal dan aksi balasan yang terjadi di berbagai wilayah memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

“Pertempuran antara AS, Israel, dan Iran telah meningkat selama seminggu terakhir, dengan serangan rudal dan serangan balasan menyebar di seluruh wilayah dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Situasi geopolitik tersebut turut memicu lonjakan harga minyak dunia. Konflik yang mengancam infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan Teluk membuat harga minyak mentah melanjutkan kenaikan tajam.

Kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran akan munculnya gelombang inflasi global baru. Kondisi tersebut berpotensi mempersulit langkah bank sentral dunia, termasuk Federal Reserve AS, dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.