Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Berdasarkan data World Grain, Layanan Pertanian Luar Negeri (FAS) Departemen Pertanian AS memproyeksikan impor kedelai China mencapai 108 juta ton pada 2026-2027, naik sekitar 2 juta ton. Kenaikan ini didorong oleh tingginya permintaan bungkil kedelai untuk pakan ternak.
Meski demikian, Wibowo menilai kenaikan harga kedelai di dalam negeri lebih dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain, seperti pergerakan harga di Chicago Board of Trade (CBOT), penguatan dolar AS, hingga kondisi ekonomi dan politik global.
Ia juga menyoroti eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah sebagai faktor utama yang mendorong kenaikan biaya distribusi.
“Perang Israel, Amerika, dan Iran menjadi faktor utama. Dampaknya ke harga minyak naik, sehingga ongkos pengiriman kedelai dari Amerika ke Indonesia juga meningkat,” jelasnya.
Di tengah kenaikan harga bahan baku, perajin tempe dan tahu memilih tidak langsung menaikkan harga jual. Sebagai gantinya, mereka melakukan penyesuaian ukuran produk.
“Siasatnya hanya menyesuaikan ketebalan,” kata Wibowo.
Ia menjelaskan, ukuran tempe dan tahu akan dikurangi secara bertahap mengikuti kenaikan biaya produksi. Misalnya, ketebalan tahu yang sebelumnya 3 cm bisa berkurang menjadi 2,5–2,8 cm, sementara tempe dari 2 cm menjadi sekitar 1,8 cm.
