Kupang, RakyatNTT.ID – Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana (Undana), Kezia Evangelin Borotoding Malo, membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak mengenal batas disiplin ilmu. Ia berhasil menembus jajaran Top 20 dalam ajang Youth Innovation Forum (YIF) 2026 yang digelar oleh Global Youth Action di Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Prestasi internasional tersebut dipaparkan Kezia dalam program Undana Talk edisi Rabu (25/3/2026). Melalui inovasinya yang diberi nama “SegiPlast”, ia membawa misi pengurangan sampah plastik sekali pakai dengan pendekatan sederhana namun berdampak luas.

SegiPlast merupakan gantungan kunci portabel yang dirancang untuk menyimpan kantong plastik bekas yang telah dilipat rapi. Inovasi ini lahir dari keresahan terhadap tingginya penggunaan plastik sekali pakai, khususnya di pusat perbelanjaan. Dengan SegiPlast, masyarakat didorong untuk membiasakan penggunaan kembali (reuse) kantong plastik.

Tidak hanya berfungsi sebagai wadah, SegiPlast juga dilengkapi dengan kode QR yang terhubung ke video tutorial melipat plastik serta konten edukasi tentang pelestarian lingkungan. Inovasi ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta poin ke-14 terkait ekosistem laut.

“Inovasi harus berangkat dari masalah di sekitar kita. Saya memulai dari satu kantong plastik, karena kita tidak bisa langsung menyelesaikan semua persoalan sampah. Jika konsisten, dampaknya bisa berkembang hingga tingkat global,” ujar Kezia.

Keberhasilan ini juga menjadi cerminan semangat “Undana Berdampak”. Kezia mengakui dukungan dari pihak kampus, baik dari rektorat maupun fakultas, sangat membantu dalam proses persiapan hingga kompetisi internasional.

Sebagai mahasiswi Ilmu Hukum, Kezia turut mematahkan anggapan bahwa isu lingkungan hanya menjadi ranah mahasiswa sains. Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama sebagai bagian dari nilai kemanusiaan.

Di akhir sesi, Kezia mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa Undana, untuk berani keluar dari zona nyaman dan terlibat aktif dalam isu global. Ia menekankan pentingnya aksi nyata dibanding sekadar wacana.

“Tidak harus menjadi mahasiswa lingkungan untuk peduli pada alam. Jangan menunggu, karena perubahan dimulai dari langkah kecil yang kita lakukan hari ini,” pesannya.

Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berinovasi dan mengharumkan nama Undana di tingkat internasional, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian lingkungan di Nusa Tenggara Timur. (*/rnc)