Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari tiga minggu memicu perubahan signifikan dalam perilaku investor global. Di tengah ketidakpastian geopolitik, terjadi pergeseran preferensi dari aset tradisional seperti emas ke aset digital seperti Bitcoin.
Selama ini, emas dikenal sebagai “safe haven” atau aset lindung nilai. Namun dalam beberapa waktu terakhir, investor justru mulai menarik dananya dari instrumen berbasis emas.
Data pasar menunjukkan dalam sepekan terakhir sekitar 3,8 miliar dolar AS keluar dari dua ETF emas terbesar, yakni SPDR Gold Shares (GLD) dan iShares Gold Trust (IAU). Sebaliknya, ETF Bitcoin mencatat arus dana masuk sekitar 2 miliar dolar AS dalam beberapa pekan terakhir.
Fenomena ini mengindikasikan meningkatnya minat investor terhadap Bitcoin, bahkan di tengah kondisi global yang tidak stabil.
Sejalan dengan itu, harga Bitcoin juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan data CoinMarketCap, hingga Rabu (25/3/2026), Bitcoin menguat sekitar 1,17 persen ke level 71.167 dolar AS.
Analis ETF senior Bloomberg Intelligence, Eric Balchunas, menilai Bitcoin mulai menunjukkan karakteristik sebagai aset lindung nilai di tengah konflik.
“Sejak serangan terhadap Iran, Bitcoin secara mengejutkan terlihat seperti aset aman yang cukup baik, sementara emas tidak,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan adanya perubahan permanen dalam pola investasi global. Menurutnya, hubungan antara Bitcoin dan emas tidak selalu saling berlawanan.
“Korelasinya lebih mendekati nol, bukan berbanding terbalik. Keduanya sama-sama berfungsi sebagai penyimpan nilai, hanya saja yang satu lebih lama dikenal, sementara yang lain lebih baru,” jelasnya.
Perkembangan ini menunjukkan dinamika baru dalam pasar keuangan global, di mana aset digital mulai mendapat tempat sebagai alternatif lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

