Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Program ini didukung Pemerintah Australia melalui DFAT–ANCP dan akan berlangsung hingga 2027 di Kabupaten Kupang dan Sumba Barat Daya.
Pembelajaran Kreatif dan Inklusif
Program Coordinator GENRE Save the Children Indonesia, Ken Djami, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan berfokus pada pembelajaran ramah anak dan inklusif.
Melalui wadah Student Media & Maker Labs dan After School Club, siswa akan belajar menyampaikan pesan kesiapsiagaan bencana melalui karya kreatif seperti tulisan, video, hingga visual.
Libatkan Akademisi dan Praktisi
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi dari berbagai narasumber profesional. Di antaranya Desderdea Kanni dari BPBD NTT yang membahas isu inklusi, serta akademisi Politani Kupang Leny Mooy terkait pemetaan risiko perubahan iklim.
Selain itu, jurnalis Matheos Viktor Messakh, sastrawan Mario F. Lawi, dan kreator visual Agusto Bunga turut memberikan pelatihan teknis pembuatan konten kreatif.
Guru Antusias Terapkan di Sekolah
Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi terhadap metode pembelajaran ini. Salah satu guru peserta, Zet Feoh, mengaku pelatihan tersebut membuka wawasan baru dalam mengajarkan mitigasi bencana kepada siswa.
“Issue berat seperti perubahan iklim ternyata bisa diajarkan lewat puisi, cerita pendek, atau video sederhana,” ujarnya.
Tindak Lanjut dan Ekspansi Program
Sebagai tindak lanjut, para guru akan membentuk After School Club di sekolah masing-masing dengan melibatkan minimal 16 siswa pada tahap awal. Karya siswa nantinya akan dipublikasikan dan dipamerkan dalam festival kesiapsiagaan bencana tingkat sekolah.
