Pada 18 Maret 1961, dia resmi ditabiskan sebagai imam oleh Uskup Agung Doktor Frans Yachym, dan menjabat sebagai pastor pembantu di Paroki Ottenhofen dan Gerbarau hingga Agustus tahun yang sama.

Pada Maret 1962, dia berangkat menuju Indonesia dan tiba pada 4 April. Setelah belajar bahasa Indonesia di Mata Loko selama Mei-September 1962, dia tiba di Ruteng pada 17 September.

Dia menjabat sebagai pastor pembantu di Paroki Todo dan Pacar pada Desember 1962 hingga Mei 1963, sebelum pada tahun 1964 resmi menjadi pastor Paroki Rejeng – jabatan yang dia pegang dengan penuh dedikasi hingga pensiun pada tahun 2016.

Iklan

Kebaikan yang Tak Pernah Padam

Meski sudah memasuki masa pensiun, sisa-sisa hidupnya tetap dihabiskan di pastoran dengan melakukan berbagai kebaikan bagi sesama. Ciri khasnya yang tak terlupakan adalah sering mengucapkan kata “Hem dan Hem” serta mengocok tangan ketika sedang marah.

Banyak umat yang masih menyimpan kenangan hangat tentangnya, termasuk saat dia pulang dari kampung halaman membawa oleh-oleh permen kuda khusus untuk anak-anak asrama, sebuah momen yang selalu teringat oleh mereka yang kala itu masih duduk di bangku SMP.

Paulus, salah satu umat paroki, menyampaikan rasa syukur dan duka yang mendalam: “Kecintaannya kepada Kristus tidak hanya terucap dengan kata-kata, tapi terbukti melalui perbuatannya. Dia tidak pernah berbicara tentang uang, namun pelayanan kasih selalu menjadi prioritasnya. Banyak benih cinta yang telah tumbuh berkat dia,” katanya.

Selamat Jalan, Sang Pembawa Cahaya

Seluruh umat Paroki Santa Perawan Maria diangkat ke surga Rejeng, menyampaikan ucapan selamat jalan yang penuh penghormatan. Pater Thomas Krump SVD mungkin telah pergi untuk selamanya, namun jejak cinta dan pelayanannya sebagai “Sang Meteor” yang menerangi jalan umat di tengah kegelapan dunia akan terus hidup dan menginspirasi generasi mendatang. (rnc28)