Menurutnya, reputasi kampus ternama maupun IPK tinggi tidak lagi menjadi jaminan tunggal untuk meraih kesuksesan.

“Kita tidak kekurangan orang pintar, teori, atau wacana. Yang kita butuhkan adalah generasi yang mampu mengubah pengetahuan menjadi solusi nyata untuk memecahkan persoalan masyarakat,” ujar Johni.

Ia juga memaparkan sejumlah tantangan krusial di NTT, antara lain tingkat kemiskinan yang masih tinggi, rendahnya produktivitas daerah, akses air bersih yang belum merata dan transformasi ekonomi yang belum memiliki nilai tambah.

Menurutnya, potensi besar NTT di sektor pertanian, peternakan, kelautan, pariwisata, hingga energi terbarukan membutuhkan sentuhan inovasi dari para intelektual muda.

“NTT membutuhkan orang-orang yang berintegritas, jujur, dan siap berkorban. Lulusan Undana tidak dididik untuk menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku perubahan,” pungkasnya.

Rektor Undana: Jadilah seperti Bidak Kuda

Sementara itu, dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, ST., M.Eng. menggunakan metafora unik dari permainan catur, yakni bidak kuda (the knight), untuk menggambarkan karakter lulusan perguruan tinggi.

Menurut Rektor Undana tersebut, bidak kuda melambangkan kemampuan melampaui kebuntuan. Berbeda dengan bidak lain yang bergerak lurus, kuda memiliki pola langkah khas yang memungkinkan melompati hambatan.