SAYA mengenal sosok Valentino Luis pertama kali melalui Dicky Senda, ketika saya mulai mendalami isu pengelolaan komunitas, literasi, kewirausahaan, dan Pendidikan Luar Sekolah. Dari sanalah nama Valentino disebut sebagai salah satu figur penting yang karyanya patut dipelajari.

Pada awalnya, dari nama itu, saya sempat mengira ia seorang misionaris asal Italia yang berkarya di Flores. Namun setelah menelusuri media sosialnya terutama Facebook saya baru menyadari bahwa ia adalah putra daerah, orang Maumere.

Sejak pertama kali melihat unggahan-unggahannya, saya langsung tertarik. Ada kejujuran, keberanian, dan ketulusan yang kuat dalam cara ia berkarya. Kesan pertama saya sederhana namun dalam “orang ini luar biasa”. Saya menyukai foto-fotonya, caranya bertutur, serta kemampuannya mengolah karya menjadi alat perubahan.

Melalui berbagai platform digital, ia memperlihatkan bagaimana literasi dan kewirausahaan berbasis lokal bisa berdiri tegak, berakar kuat pada budaya, namun tetap bergema hingga ke seluruh Nusantara dan bahkan dunia.

Sebagai seorang fotografer amatiran, saya belajar banyak dari karya visualnya—mulai dari sudut pengambilan, pemilihan tone, hingga ketepatan menangkap momen. Foto-fotonya bukan sekadar indah, tetapi hidup dan menggugah rasa. Dari situlah saya mengetahui bahwa ia adalah seorang fotografer sekaligus jurnalis perjalanan, dengan karya-karya yang dapat kita baca di majalah yang tersedia di pesawat.

Ia mengabadikan bukan hanya perjalanan, tetapi juga pengabdian, dengan kesadaran penuh akan nilai dan martabat subjek yang ia ceritakan.

Sebagai pelancong, Valentino adalah pengamat yang setia. Ia mengabadikan tempat-tempat dengan potensi wisata, keunikan alam, penginapan-penginapan sederhana namun nyaman di kawasan pariwisata, serta potensi lokal yang sering luput dari perhatian. Ia merekam ritus budaya, tradisi, aktivitas ekonomi, kewirausahaan lokal, hasil panen, kehidupan nelayan, petani, perajin, dan seniman.

Semua itu ia sajikan dengan sudut pandang yang hangat menampilkan keakraban, kekeluargaan, dan kemanusiaan. Ia kerap tampak melancong sendirian, namun dari kesendiriannya lahir cerita-cerita yang menyatukan banyak orang.

Salah satu hal yang sangat membekas bagi saya adalah keterlibatannya dalam Shoes for Flores. Saya sendiri pernah mencoba melamar sebagai relawan, namun gagal karena keterbatasan waktu dan tugas.

Dari pengamatan saya, komunitas ini bukan sekadar gerakan sosial, melainkan sebuah rumah yang menampung para pejuang dari berbagai latar belakang profesi dan passion. Karya mereka menjangkau pelosok dan golongan, menghadirkan bantuan nyata bagi sesama. Di sana saya melihat bagaimana Valentino menempatkan kemanusiaan sebagai pusat dari segala gerakannya.

Dalam dunia kewirausahaan, ia menunjukkan keteladanan yang kuat. Ia mengolah tenun lokal bermotif khas Sikka, serta hasil karya keluarganya sendiri, menjadi tas, dompet, jaket, jas, dan berbagai produk fesyen lain.

Dengan berkolaborasi bersama desainer dari NTT maupun luar NTT, ia membuktikan bahwa produk lokal bisa tampil berkelas tanpa kehilangan jati diri. Ia memasarkan karyanya melalui media sosial dengan cara yang elegan, jujur, dan bermartabat.

Selain jurnalis, pelancong, dan pelaku UMKM, Valentino Luis juga adalah seorang pendidik sejati. Ia berbagi pengetahuan tentang literasi, seni, kewirausahaan, komunitas, fotografi, dan manajemen bisnis melalui berbagai lokakarya. Baik sebagai penyelenggara bersama timnya maupun sebagai narasumber undangan, ia hadir dengan niat tulus kerendahan hati (entah di mana saya lupa, ia tetap membawakan materi meskipun baru mengalami musibah kecelakaan lalulintas).

Kesan yang sangat kuat bagi saya “ia bukan orang yang pelit ilmu”. Ia berbagi dengan tulus, sekaligus mengajak mereka yang sudah mampu untuk berjalan bersama, membangun mereka yang masih membutuhkan langkah awal.

Ia juga sangat mendukung pergerakan orang muda. Melalui karya dan kehadirannya, ia seolah menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin asal kita mau bergerak, belajar, dan berbagi. Ia telah menunjuk arah yang baik, sebuah jalan yang patut ditelusuri dan diteruskan.

Sejujurnya, saya belum pernah bertemu atau berkomunikasi secara langsung dengannya. Namun saya masih menyimpan harapan besar, suatu hari dapat menghadirkannya untuk berdiskusi dan berbagi bersama orang-orang muda di tempat saya berada. Saya ingin belajar lebih banyak darinya. Dan saya percaya, segala hal baik yang telah ia lakukan tidak boleh berhenti padanya.

Kini, meskipun ia telah menyelesaikan perjalanannya di dunia ini karya-karya dan jejak yang ia tinggalkan tetap hidup. Dari sanalah kita belajar. Seperti hakikat seorang guru sejati, mungkin ia berharap apa yang telah ia arahkan dapat kita ikuti dan manfaatkan, agar kelak lahir buah-buah yang baik, buah yang berguna bagi banyak orang.

Selamat jalan, Saudaraku.

Terima kasih atas semua yang telah engkau berikan.
Beristirahatlah dalam damai di hadirat Tuhan yang Abadi.

Valentino E. Luis merupakan seorang Penggagas Shoes Of Flores. Almarhum Valentino E. Luis menghembuskan nafas terakhirnya pada Selasa, 03 Februari 2026. (*)