Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Selain isu geopolitik, pasar juga menilai dampak tarif baru AS menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang mengubah kerangka hukum sejumlah kebijakan perdagangan. Pengenalan bea masuk global hingga 15 persen menambah ketidakpastian terhadap prospek perdagangan global.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed Berubah
Pelaku pasar juga mulai mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Hal ini terjadi setelah sejumlah pejabat bank sentral AS menyampaikan kekhawatiran atas tekanan inflasi yang masih berlanjut.
Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, menegaskan sikap hati-hati dalam memangkas suku bunga tanpa bukti jelas bahwa inflasi kembali secara berkelanjutan menuju target 2 persen.
Kondisi ini turut memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Respons Pemerintah Indonesia
Dari sisi domestik, pasar menilai positif respons cepat Pemerintah Indonesia atas putusan Mahkamah Agung AS terkait kebijakan tarif Trump.
Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran terkait mengkaji potensi risiko pascakeputusan tersebut, khususnya terhadap implementasi perjanjian dagang Indonesia–AS.
Pemerintah memastikan perjanjian bilateral tetap berjalan sesuai mekanisme yang telah disepakati. Kebijakan tarif 10 persen yang berlaku sementara selama 150 hari dinilai relatif lebih baik dibandingkan skenario sebelumnya.
