Menurut investigasi media ini, setidaknya terdapat 36 ibu hamil lainnya yang mengalami kondisi serupa dan membutuhkan kepastian layanan persalinan di Rote Ndao.

Diminta Ada Langkah Nyata Pemerintah

Para pasien berharap Pemerintah Kabupaten Rote Ndao segera mengambil langkah konkret guna menghindari risiko kematian ibu dan bayi akibat keterlambatan penanganan persalinan.

Maria secara terbuka meminta Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, SH, agar tidak tinggal diam menghadapi krisis dokter spesialis ini.

Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Kamis (12/02/2026), Bupati Paulus Henuk memberikan tanggapan singkat.

“Ini hal teknis, silakan tanya ke rumah sakit,” balasnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Ba’a, dr. Yulia E. Krones, MPH, yang dihubungi sekitar pukul 19.04 WITA, belum memberikan respons atas pesan maupun panggilan telepon dari media ini.

Hal serupa juga terjadi saat media ini mencoba mengonfirmasi Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Rote Ndao, Maria Isabela, SH. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi.

Ancaman Keselamatan Ibu dan Bayi

Ketiadaan dokter spesialis Obgyn di Rote Ndao menjadi persoalan serius, mengingat layanan kesehatan reproduksi, kehamilan berisiko tinggi, dan operasi Caesar membutuhkan penanganan tenaga ahli.