“Negara harus memastikan tidak ada anak yang merasa sendirian menghadapi kesulitan. Pendidikan harus menjadi tempat berlindung, bukan sumber tekanan,” ujarnya.

Ia juga mendorong adanya mekanisme deteksi dini di sekolah-sekolah, agar persoalan ekonomi, psikologis, dan sosial yang dialami siswa dapat segera diketahui dan ditangani sebelum berujung pada tragedi.

Tragedi yang Tak Boleh Terulang

Bagi Simson A. Lawa, tragedi siswa SD di Ngada bukan sekadar berita duka, melainkan peringatan keras bahwa reformasi pendidikan harus menyentuh akar persoalan kemanusiaan. Ia berharap, peristiwa ini menjadi momentum refleksi bersama bagi seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat.

“Hari ini mungkin kita hanya bisa berdoa dan berduka. Tapi ke depan, kita harus bertanya solusi apa yang bisa kita berikan agar tragedi seperti ini tidak pernah terulang,” katanya.

Menurutnya, masa depan pendidikan Indonesia, khususnya di NTT, sangat ditentukan oleh keberanian untuk membangun sistem yang berlandaskan empati, nilai, dan keberpihakan pada anak-anak yang paling rentan.

“Pendidikan harus kembali menjadi harapan. Bukan ketakutan. Bukan kengerian. Tapi ruang di mana anak-anak bisa bermimpi dan bertumbuh dengan bahagia,” pungkas Simson. (rnc)