“Ketika seorang anak merasa tidak mampu bertahan hanya karena buku dan pena, itu berarti ada sesuatu yang salah dalam sistem kita. Pendidikan kehilangan wajah kemanusiaannya,” tegasnya.

Ia menyebut, dalam situasi seperti ini, yang paling siap dan paling dekat dengan anak-anak sebenarnya adalah para guru. Guru bukan hanya pengajar di ruang kelas, tetapi figur yang kerap menjadi tempat anak-anak berbagi cerita, ketakutan, dan harapan, selain orang tua mereka sendiri.

Guru Memikul Beban Terberat

Menurut Simson, guru adalah garda terdepan dalam menjaga kesehatan mental dan semangat belajar anak. Namun ironisnya, para guru justru sering memikul beban paling berat tanpa dukungan yang memadai dari negara.

“Guru itu paling berat tugasnya. Mereka mendidik, membimbing, mendengar keluh kesah anak, bahkan sering menggantikan peran orang tua di sekolah. Negara harus hadir meringankan beban itu,” ujarnya.

Ia menilai, selama ini negara terlalu fokus pada aspek administratif dan anggaran, sementara iklim belajar-mengajar yang sehat, aman, dan menggembirakan justru kerap terabaikan. Padahal, menurutnya, semangat belajar anak tidak hanya lahir dari ketersediaan fasilitas, tetapi juga dari rasa aman, diterima, dan dihargai.

Negara Harus Hadir Lebih Dekat

Simson mendesak negara, baik pemerintah pusat maupun daerah, untuk hadir lebih dekat dalam kehidupan sehari-hari anak-anak dan guru. Kehadiran negara tidak boleh hanya sebatas kebijakan di atas kertas, tetapi harus nyata dalam bentuk pendampingan, kepekaan sosial, dan respons cepat terhadap persoalan di lapangan.