“Tujuan kita satu, rakyat bisa bekerja dengan tenang tanpa takut masalah hukum, tetapi lingkungan dan rumah warga harus tetap terlindungi. Tidak boleh ada warga yang dikorbankan,” tambah Klemens.

Klemens juga mengajak pemuda, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan, termasuk mahasiswa GMNI, untuk mengawal proses IPR Desa Noenasi secara objektif dan damai.

Ia optimistis melalui Musyawarah Besar Desa, Noenasi dapat menjadi contoh bagaimana tambang rakyat dikelola secara legal, tertib, dan tetap menjaga warisan leluhur.

Sinergi antara aparat keamanan, pemerintah desa, dan pemangku adat diharapkan terus diperkuat agar Desa Noenasi tetap menjadi rumah yang aman dan harmonis bagi generasi mendatang. (*/rnc)