“Data kami menunjukkan penurunan volume sampah yang diangkut ke TPA Alak. Dari sebelumnya sekitar 165 ton per hari, kini turun menjadi sekitar 158 ton per hari,” jelas Max.

Peran Bank Sampah dan Kesadaran Warga

Menurut Max, penurunan volume sampah tersebut sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah, baik untuk disetorkan ke Bank Sampah maupun ke fasilitas pengelolaan sampah lainnya. Saat ini, jumlah Bank Sampah aktif di Kota Kupang meningkat dari 12 menjadi 19 unit, ditopang oleh peran aktif 15 komunitas pengumpul sampah daur ulang yang tersebar di berbagai wilayah.

Selain faktor kesadaran warga, peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah di hilir juga berkontribusi signifikan dalam menekan beban TPA.

Untuk menjaga marwah Kota Kupang sebagai “Kota Kasih”, DLHK terus melakukan penanganan intensif di area-area rawan penumpukan sampah serta memastikan alur kerja lapangan berjalan efektif.

Max Maahury pun mengimbau masyarakat agar terus meningkatkan kepedulian dengan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan, khususnya di kontainer pada Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

“Partisipasi masyarakat sangat penting untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat, sejalan dengan visi Indonesia ASRI,” pungkasnya. (rnc)