“Ukuran keberhasilan program ini adalah perubahan gizi. Sampai sekarang belum ada data yang diumumkan. Sudah lebih dari satu tahun berjalan, tapi hasilnya belum jelas,” tegasnya.

Alfred mengaku khawatir laporan yang dikirim ke pemerintah pusat tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Kesiapan Pangan Lokal Dipertanyakan

Araksi turut mempertanyakan kesiapan sektor pangan lokal dalam mendukung program MBG. Berdasarkan hasil pemantauan mereka, sebagian besar kebutuhan seperti buah, telur, ayam, dan komoditas lainnya masih didatangkan dari luar daerah.

Iklan

“Di TTS, yang relatif tersedia hanya pepaya, itu pun terbatas. Untuk kebutuhan harian ribuan porsi, pasokan lokal belum mampu mencukupi,” katanya.

Menurut Alfred, perputaran anggaran ratusan miliar rupiah yang bersumber dari APBN belum berdampak signifikan terhadap penguatan sektor pertanian dan ekonomi lokal di TTS.

Dugaan Ketidaksesuaian Juknis

Araksi juga menyoroti dugaan ketidaksesuaian antara petunjuk teknis (juknis) dengan pelaksanaan di lapangan, khususnya terkait menu dan harga bahan pangan.

Dalam juknis disebutkan bahwa menu buah dalam satu dapur setiap hari harus seragam. Namun, di lapangan ditemukan satu dapur menyajikan beberapa jenis buah sekaligus.