S&P Global melaporkan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 51,2 pada Desember, turun dari 53,3 pada November.

Meski menurun, PMI masih berada di atas ambang batas netral 50,0, menandakan perbaikan kondisi manufaktur telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut hingga akhir tahun.

Perusahaan mencatat ekspansi moderat pada pesanan baru, ketenagakerjaan, dan aktivitas pembelian, meskipun produksi hanya meningkat secara marginal akibat kelangkaan bahan baku.

Optimisme pelaku usaha menjelang tahun 2026 juga dilaporkan menguat dan mencapai level tertinggi sejak September. Peningkatan ini terutama didorong oleh kenaikan pesanan baru selama lima bulan berturut-turut, yang didukung peluncuran produk baru dan bertambahnya pelanggan di pasar domestik.

Namun, pesanan ekspor masih mengalami penurunan selama empat bulan berturut-turut.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memprediksi pergerakan Rupiah ke depan masih akan fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp16.720 hingga Rp16.750 per dolar AS pada perdagangan selanjutnya. (*/rnc)