Gubernur Melki menegaskan bahwa apa yang dilakukan para siswa SMAN 1 Kupang Timur menjadi contoh nyata pengembangan ekonomi kerakyatan dari lingkungan sekolah.

“Masalah kita bukan soal mampu atau tidak mampu, tapi mau atau tidak mau. Kita punya tanah dan potensi yang bisa menghasilkan jika dikerjakan dengan serius,” tegasnya.

Sekolah jadi Pusat Produksi Pertanian

Menurut Gubernur Melki, SMAN 1 Kupang Timur merupakan sekolah kedua di Kabupaten Kupang yang ia kunjungi dalam kegiatan panen berbasis sekolah, setelah SMAN 1 Amarasi. Hal ini menunjukkan bahwa SMA dan SMK memiliki potensi besar menjadi pusat produksi pertanian yang produktif.

Ia berharap, praktik yang dilakukan para siswa ini dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain di seluruh NTT untuk mengembangkan pembelajaran yang berdampak langsung pada ekonomi.

Berpotensi Hasilkan Puluhan Juta Rupiah

Kepala SMAN 1 Kupang Timur, Selfina R. Sunbanu, menjelaskan bahwa modal awal kebun cabai berasal dari Dana BOS sebesar Rp35 juta. Dengan harga cabai yang sedang tinggi, hasil panen diperkirakan mampu memberikan keuntungan hingga puluhan juta rupiah.

“Seluruh proses dikerjakan oleh siswa. Ini bukan hanya belajar bertani, tetapi juga belajar mengelola usaha secara nyata,” jelasnya.