Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Posisi rupiah yang masih berada di area rentan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS membuat kebijakan menahan suku bunga dinilai sebagai langkah untuk memberikan kepastian pasar sekaligus menekan volatilitas.
Sentimen Global dan Fenomena “Sell America”
Dari sisi eksternal, pelemahan indeks dolar AS sejatinya memberikan ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Tekanan terhadap dolar muncul setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa terkait isu Greenland.
Ancaman tersebut memicu aksi jual pada aset-aset Amerika Serikat dan menghidupkan kembali fenomena “Sell America”. Investor tercatat melepas saham, obligasi pemerintah AS, serta dolar, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap ketidakpastian kebijakan, memburuknya hubungan aliansi, dan potensi percepatan tren de-dolarisasi global.
Meski demikian, pelaku pasar masih cenderung berhati-hati menjelang dibukanya kembali pasar Amerika Serikat pasca libur Martin Luther King Jr. Day. Selain itu, investor global juga menanti arah kebijakan moneter The Federal Reserve.
Saat ini, kontrak berjangka Fed funds masih mencerminkan probabilitas sekitar 94,5% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan depan, berdasarkan data CME Group FedWatch Tool. (*/rnc)
