Melki Laka Lena menyebutkan, ada 20-an cabang olahraga yang dipertandingkan di NTT. Untuk menyukseskan pertandingan 20-an cabor tersebut, pemerintah akan merenovasi venue-venue yang sudah ada di beberapa daerah NTT. Termasuk venue yang merupakan milik kampus atau instansi lainnya.

“Dengan dukungan pemerintah pusat, kita fokus pada renovasi dan pembenahan venue yang sudah ada, bukan membangun dari nol. Dengan skema ini, kesiapan NTB dan NTT relatif aman,” katanya.

Berkaca pada penyelenggaraan PON sebelumnya seperti di Papua serta Aceh-Sumut, Melki Laka Lena mengaku tidak ingin ke depannya ada venue yang baru dibangun, jadi mubazir setelah penyelenggaraan PON.

Iklan

“Pembangunan venue akuatik misalnya, biayanya sangat besar. Biaya perawatannya juga besar. Pengalaman PON Papua menunjukkan banyak venue yang akhirnya terbengkalai dan biaya perawatannya besar. Presiden tidak ingin hal itu terulang,” terang mantan anggota DPR RI itu.

Kebijakan yang sama, lanjut Melki Laka Lena, juga diterapkan di NTB. Dengan demikian, sejumlah cabor dengan kebutuhan anggaran sangat besar, tidak akan digelar di NTB maupun NTT, namun dialihkan ke daerah lain yang memiliki fasilitas yang siap pakai.

“Cabang olahraga yang tidak memungkinkan (dipertandingkan, red) di NTB dan NTT, akan dipusatkan di daerah lain seperti Jakarta atau Jawa Barat,” katanya.