Sebagian besar kecelakaan terjadi di sekitar perairan Pulau Padar, Komodo, dan Rinca, baik akibat cuaca buruk maupun gangguan teknis kapal. Beberapa insiden sebelumnya antara lain tenggelamnya kapal wisata Raja Bintang 02 pada Maret 2025, Phinisi Budi Utama pada Juni 2024, kecelakaan rute Labuan Bajo–Pulau Padar pada Agustus 2024, serta kapal pinisi Dewi Anjani pada Desember 2025.

Imbauan Keselamatan Pelayaran

Atas nama Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban yang meninggal dunia serta harapan agar korban yang masih hilang dapat segera ditemukan.

Ia juga mengapresiasi dedikasi seluruh Tim SAR Gabungan, termasuk Basarnas, TNI AL, Polairud, KSOP, BNPB, BPBD, relawan, dan masyarakat setempat.

Iklan

Polda NTT mengimbau seluruh operator kapal wisata, nahkoda, dan wisatawan untuk selalu mengutamakan keselamatan pelayaran, antara lain dengan memastikan kelayakan kapal dan mesin, ketersediaan alat keselamatan, memantau informasi cuaca dari BMKG, serta tidak memaksakan pelayaran saat cuaca ekstrem.

“Polda NTT berkomitmen penuh menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat di wilayah perairan Nusa Tenggara Timur serta mendukung terwujudnya Labuan Bajo sebagai destinasi wisata bahari yang aman, nyaman, dan berkelas dunia,” tandasnya. (*/rnc)