“Akibat kombinasi faktor-faktor tersebut, proses pembentukan awan hujan berlangsung lebih intensif dan meluas, sehingga memicu berbagai bencana hidrometeorologis,” jelas BMKG.

Dinamika Atmosfer Masih Aktif

Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan dinamika atmosfer global, regional, dan lokal masih memberi pengaruh signifikan terhadap cuaca Indonesia. Fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau berada pada fase Netral hingga La Niña lemah, dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar +8,6 dan indeks Niño 3.4 sebesar -0,79.

Kondisi tersebut mendukung peningkatan aktivitas konvektif, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur. BMKG juga memprediksi Monsun Asia masih cukup persisten hingga dasarian pertama Februari 2026, sementara fenomena CENS diprakirakan tetap aktif dalam beberapa hari ke depan.

Selain itu, potensi pembentukan daerah tekanan rendah di Teluk Carpentaria dapat memicu perlambatan angin atau konvergensi di wilayah Indonesia bagian selatan. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin juga diprediksi aktif di Samudra Hindia barat Jawa hingga selatan NTT, Lampung, Laut Sulu, Laut Arafura, dan Papua Selatan.

Imbauan BMKG

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti genangan, banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, serta melakukan langkah mitigasi di lingkungan masing-masing.

Prospek Cuaca Sepekan ke Depan

Periode 30 Januari – 1 Februari 2026