Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ia juga menekankan bahwa kehadiran investor di daerah kepulauan seperti Lembata bukanlah hal yang mudah, sehingga setiap peluang investasi perlu dijaga bersama.
“Tidak gampang mendatangkan investor ke Lembata. Untuk mendapatkan sesuatu yang besar, kita harus siap menghadapi tantangan. Dampak usaha ini sangat luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekonomi masyarakat, hingga pembangunan pabrik di daerah ini,” tambahnya.
Dorong Pengurangan Impor Garam Nasional
Sementara itu, pimpinan PT Prima Daya Lembata menjelaskan bahwa pengembangan industri garam di Lembata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi nasional, seiring masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor garam.
Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 3 juta ton garam per tahun, meskipun memiliki sumber daya alam berupa laut dan sinar matahari yang melimpah.
“Kita memiliki laut dan matahari yang gratis, tetapi masih mengimpor garam dalam jumlah besar. Lembata punya potensi besar untuk menjadi bagian dari solusi nasional,” ujarnya.
Dengan memanfaatkan lahan minimal 5.000 hektare, perusahaan menargetkan produksi 500 ton garam konsumsi per hari melalui sistem produksi modern yang memungkinkan panen dilakukan setiap hari, tidak lagi bergantung pada metode tradisional yang memerlukan waktu hingga 21 hari.
