Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin (12/1/2026). IHSG tercatat mendadak ambruk lebih dari 2 persen sebelum akhirnya memangkas koreksi dan berangsur pulih.
Berdasarkan data perdagangan, pada pukul 14.33 WIB IHSG anjlok 194,24 poin atau 2,17 persen ke level 8.742,51. Namun, beberapa menit berselang, indeks berhasil memangkas pelemahan hingga berada di bawah 1 persen.
Mayoritas Saham Melemah, Transaksi Capai Rp27,71 Triliun
Tekanan jual tercermin dari pergerakan saham di bursa. Sebanyak 535 saham melemah, 220 saham menguat, dan 203 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat cukup besar, mencapai Rp27,71 triliun, dengan volume perdagangan 49,98 miliar saham dalam 3,7 juta transaksi.
Padahal, pada penutupan sesi I, IHSG masih mencatatkan penguatan tipis 0,13 persen atau naik 11,21 poin ke level 8.947,96. Saat itu, 359 saham menguat, 311 saham melemah, dan 141 saham tidak bergerak.
Aksi Profit Taking Saham Energi jadi Pemicu
Sejumlah analis menilai kejatuhan IHSG dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking), terutama pada saham-saham sektor energi yang sebelumnya mengalami penguatan signifikan.
Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa tekanan pada emiten energi menjadi faktor utama koreksi intraday.
“Kami mencermati koreksi IHSG dibebani oleh emiten-emiten energi yang tadi sempat terkoreksi kurang lebih 2 persen. Kami perkirakan ada aksi ambil untung setelah penguatan signifikan. Saat ini IHSG mulai rebound meski masih berada di teritori negatif,” ujar Herditya, dikutip dari CNBC Indonesia.
Geopolitik Global Tambah Tekanan Pasar
Senada, Ekonom sekaligus Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengaitkan pelemahan IHSG dengan dinamika geopolitik global.
“Hemat saya, koreksi ini berkaitan dengan dinamika geopolitik. Selain itu, aksi profit taking di saham energi juga menjadi salah satu penyebab IHSG terkoreksi,” jelas Nafan.
Sementara itu, Analis Komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai koreksi tersebut masih dalam batas wajar.
“Saya melihat ini hanya koreksi wajar akibat aksi profit taking setelah kenaikan yang cukup besar belakangan ini. Sentimen risk off juga terbatas dari kekhawatiran perkembangan di Iran serta langkah investigasi terhadap Jerome Powell oleh Kemenkum AS,” ungkap Lukman.
Perdagangan Pendek, Pasar Fokus Inflasi AS
Sebagai catatan, pasar keuangan Indonesia hanya beroperasi empat hari pada pekan ini karena adanya libur Isra Mi’raj pada Jumat, sehingga perdagangan bursa relatif lebih singkat.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diminta mencermati sentimen global dan domestik secara lebih hati-hati. Fokus investor kini tertuju pada rilis inflasi Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan pekan depan, serta pergerakan harga komoditas global yang masih menunjukkan tren kenaikan.
Pasar saat ini memperkirakan inflasi AS berada di kisaran 2,7 persen secara tahunan di akhir 2025, lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya di atas 3 persen. Angka tersebut masih bersifat estimasi, mengingat Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) tidak merilis data resmi selama periode government shutdown pada akhir 2025. (*/rnc)
